BRAKK!!
Pintu kamar terbanting keras. Derap langkah Retha memasuki ruangan yang sudah ia huni sejak 13 tahun lalu itu. Mukanya kusut, air mata yang sejak tadi ditahannya mulai mengucur deras membasahi pipinya.
“Huh! Kenapa sih aku tidak bisa melakukannya! Kenapa di saat begini malah ada masalah kayak gini!”, keluh Retha kesal. Yah, hari ini banyak hal yang telah terjadi. Mulai hal terkecil sampai yang terbesar, Dari yang biasa saja sampai yang luar biasa. Semuanya selalu menghiasi hari-hari Retha di SMP Negeri 1 Gresik ini.
Tapi nampaknya, ada yang tak beres kali ini. Retha memang selalu berwajah kusut sepulang dari sekolah. Maklum, masa-masa kelas 3 SMP begitu menguras tenaganya. Namun tak seperti biasanya ia semurung ini.
Retha meletakkan tas kuningnya, melepas semua atribut seragam yang dipakainya, lalu menggantinya dengan pakaian santai bermotif Teddy Bear dari dalam almarinya. Ia menghela napas panjang seraya merebahkan diri dalam keempukan Bed-Cover berwarna putih ranjangnya.
Pikirannya melayang memikirkan sesuatu. Sorot matanya menatap langit-langit kamar dengan sayu dan kosong. Sedetik berikutnya, Retha telah terlelap dalam pikiran di alam bawah sadarnya.
***
Klik. Klik..
Suara tombol mouse terlihat memilih beberapa icon pada layar komputer sambil mengiringi bunyi detak jam yang menunjukkan pukul 20.00 WIB. Retha terlihat lebih segar dari sebelumnya. Bola matanya ikut memainkan arah panah mouse pada layar komputer itu.
Hari ini tanggal 1 September 2009, bertepatan dengan hari ke 11 di bulan Ramadhan. Biasanya sehabis sholat terawih di Masjid gang belakang, Retha selalu menghabiskan malamnya di depan komputer kesayangannya itu.
“Ah! Ketemu!”
Ini dia yang kucari! Situs blog terpopuler dan paling digemari saat ini, batin Retha.
Selamat datang di Halaman awal web blog xxxxx. Ini halaman dimana anda bisa memiliki dunia milik anda sendiri, menjadi diri yang anda mau, dan menumpahkan semua keluh kesah anda. Silahkan…..
Retha asyik membaca halaman awal web blog itu, sampai-sampai ia tak sadar pintu kamarnya diketuk oleh seseorang.
“Retha? Ini Mama, sayang. Makan malamnya sudah Mama siapin di meja makan. Mama mau pergi sebentar sama Papa. Jaga rumahnya,ya”,kata Mama Retha dari balik pintu.
“Iya Ma. Beres! Hati-hati ya. Dadaa..!”,seru Retha dari dalam kamar.
Dasar Retha!
Mamanya hanya menggeleng pelan dan berjalan menjauhi pintu kamar putrinya itu.
***
“Kenapa kamu ngelakuin itu?!”,tanya Retha kesal.
“Reth, aku cuma ingin ngebantu kamu buat ngungkapin perasaanmu itu. Kamu jangan marah lagi, dong. Please..”,jawab Ana lemah.
“Gimana nggak marah? Kamu justru sukses bikin dia ngejauhin aku setelah kamu lakuin itu! Apalagi dia sudah tahu tentang perasaanku! Kenapa kamu tega, An…”, keluh Retha sambil menahan tangisnya.
‘Dia’ yang dimaksud Retha dan Ana adalah orang yang disukai oleh Retha sejak kelas 2 SMP dulu. Namanya Rizqi, awalnya Retha tak menyadari perasaannya pada Rizqi sudah begitu besar. Dulu, Retha dan Rizqi selalu bersaing untuk menjadi yang terbaik di kelas 2-A dengan teman-teman yang tak kalah pintar lainnya juga seperti Dyta dan Frio. Tapi Retha lebih dulu berhasil meraih meraih peringkat 1 , sedangkan Rizqi masih di bawah peringkatnya.
Meski begitu, hubungan mereka mulai akrab saat mendekati UAS Semester 2. Pada waktu itu, persaingan nilai sungguh ketat! Rizqi berhasil mendapat nilai terbaik untuk pelajaran IPS yang dirasa paling sulit waktu itu, Sedangkan Retha hanya mendapat nilai standart atau bisa dibilang pas-pasan. Tentu saja Retha sempat frustasi akan hal itu. Tapi tak lama kemudian Retha bangkit dan hasilnya, dia bisa mempertahankan peringkat 1-nya di kelas 2-A.
Di kelas 3 ini, Retha berpisah dengan Rizqi. Retha di kelas 3-B, sedangkan Rizqi di kelas 3-E. Walau jarang bertemu, sesekali Retha mampir ke kelas 3-E dan menyapa kawan-kawannya di kelas 2-A dulu.
“Oke! Aku tahu niatmu baik. Tapi please! Mulai sekarang jangan urusin masalahku lagi. Dan jangan ikut campur! Aku perlu waktu buat sendiri!”,seru Retha ketus.
Retha kesal dan lelah. Ya, lelah. Ia tak tahu kata-kata apa yang bisa menggambarkan perasaannya saat itu. Pikirannya berkunang kembali memikirkan kejadian sewaktu istirahat pertama tadi. Saat Ana, sahabat baiknya sendiri mengungkapkan perasaannya pada Rizqi tanpa seizinnya dan berterus terang padanya.
Jadi wajar jika Retha sangat kecewa pada Ana. Terlebih lagi sejak kejadian itu, Rizqi mulai menjauh dari dirinya.
Aah.. serumit itukah cinta?
***
“Waaa! Lucunya… aku ingin memakai gambar ini untuk dinding wallpaper blog-ku!”,kata Retha.
“Hmm.. padang bunga yang berwarna kekuningan. Terbentang begitu luas bagai hamparan di depan mata. Coba saja aku bisa kesana”, angannya lagi sambil memainkan tombol mouse-nya.
Pip pip pip..
Suara speaker komputer berbunyi. Berarti ada respon dari web blog, berupa pesan/komentar mungkin, pikir Retha.
Benar saja, pada kolom ‘komentar’ ia menemukan seseorang yang memberinya komentar.
‘Hi’
Isi komentar tsb.
Retha sedikit heran ada orang yang mengiriminya komentar. Padahal ia baru saja mendaftar di web blog itu.
Penasaran. Ia pun membalas komentar itu dengan cepat. Retha mencoba membuka halaman blog si ‘orang misterius’ itu.
“Wow!”, seru Retha terpana.
Retha tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Indah sekali! serunya dalam hati. Sebuah gambar padang bunga matahari yang luas! Seperti asli saja!
“Ah, pantas.. ternyata ia memakai nama yang sesuai dengan image-nya. Umm.. My Sunflower.. bagus sekali untuk semua nama account”, gumam Retha seraya mengirim pesannya.
Comments :
ÿ To : My_Sunflower
Hy juga..
Ngomong” wallpaper blog-mu bagus sekali..
Yak! Selesai. Lalu klik ‘send’. Retha sepertinya sangat senang bertemu teman baru yang mempunyai selera yang sama dengannya.
Beberapa menit kemudian, speaker komputer Retha berbunyi. Ternyata benar saja, ada sebuah komentar masuk. Dari si Bunga Matahari! Siapa lagi coba, batin Retha. Dan komentar-komentar itu pun saling berbalas dalam beberapa menit saja. Dari si Bunga Matahari untuk Retha, begitu pula dari Retha untuk si Bunga Matahari,
ÿ To : Reth”MuDz
Terima kasih
Salam kenal,ya. Aku juga menyukai wallpaper blog-mu.
[received]
ÿ To : My_Sunflower
Aah iya.. sama2
Panggil saja aku Retha. Namamu siapa?
[sent]
ÿ To : Reth”MuDz
Aku si Bunga Matahari yang baru saja
memunculkan kuncupnya
[received]
“Hah? Bunga Matahari yang baru menguncup?”, gumam Retha heran.
ÿ To : My_Sunflower
Hah? Yang kutanyakan itu namamu. Jangan
tersinggung, ya. Tapi aku sama sekali tak mengerti maksudmu..
[sent]
Lamaa…tak ada balasan komentar. Huuftt~
TENG..TENG..Bunyi lonceng menunjukkan pukul 9 malam
tepat. Retha sedikit kaget dan bingung. Apa perkataanku tadi membuatnya marah ya? Sampai-sampai tak membalas komentarku, pikir Retha.
Beberapa menit kemudian, speaker komputer Retha berbunyi. Ada komentar yang masuk!
Ah syukurlah dia masih membalas komentarku, batin Retha
ÿ To : Reth”MuDz
Namaku tetap si Bunga Matahari ;D
Mungkin kamu menganggapnya aneh. Tapi inilah diriku yang kuinginkan. Aku si Bunga Matahari.
[received]
Retha nampak berpikir sebentar. Kemudian ia menjawab komentar si Bunga Matahari itu.
ÿ To : My_Sunflower
Menjadi diri yang kau inginkan?
[sent]
ÿ To : Reth”MuD
Ya! Kenapa tidak? Di sini aku bisa menjadi
sosok yang kuinginkan. Tak peduli komentar orang-
orang sekitar. Bukankah di dunia maya kita bertemu
dengan orang-orang yang memakai tampilan luar atau
topeng mereka saja?
[received]
ÿ To : My_Sunflower
Hey! Tak semuanya seperti itu. Mungkin aku
setuju dengan pendapatmu tentang ‘menjadi apa yang kita inginkan’. Tapi aku tak setuju tentang ‘orang-orang’ yang memakai topeng itu!
[sent]
Huh! Dikiranya aku juga tak mau menjadi diri yang
Kuinginkan apa?!, batin Retha kesal.
ÿ To : Reth”MuD
Bukan begitu,Retha. Menjadi diri yang kita inginkan tak selalu menjadi diri kita sendiri. Kamu tahu maksudku? Seperti ketika ada seseorang yang ingin menjadi kaya untuk memenuhi ambisinya sendiri dengan menindas yang lemah.
Dan adapula seorang anak yang tega mengkhianati sahabatnya sendiri untuk jadian dengan gebetan sahabatnya, untuk memenuhi keinginannya. That’s reality, hamper menghalalkan segala cara untuk memenuhi keinginannya, untuk menjadi yang mereka inginkan. Jadi tak ada salahnya aku menyebut mereka memakai ‘topeng’ itu.
[received]
ÿ To : My_Sunflower
Tapi tak semua orang seperti itu! Jangan
Menilai kepribadian seseorang secara mayoritas
saja! Mungkin pada kenyataan orang-orang memang
memiliki setiap diri yang mereka inginkan. Tapi tak
berarti ‘diri yang mereka inginkan’ itu mengarah ke
perubahan yang jelek!
Psst : sayangnya aku bukan orang yang suka
mengkhianati sahabatku sendiri,tuh! Justru
aku yang telah dikhiananti :p
[sent]
Iiikh! Menjengkelkan sekali. Walau memang harus kuakui, mungkin kata-katanya ‘sedikit’ sesuai dengan kenyataan, gumam Retha.
Berikutnya si Bunga Matahari itu membalas komentar Retha dengan hal yang tak terduga oleh Retha sendiri.
ÿ To : Reth”MuDz
Ahaha.. aku senang bertemu denganmu
Kamu orang yang suka memperhatikan teman-teman dan orang-orang di sekitarmu. Teruslah menjadi dirimu yang seperti itu dan kembangkan sayapmu. Kamu seperti si merpati yang membantu menyebarkan biji Bunga Matahari. Mulai sekarang dan seterusnya, kita berteman,ya..
[received]
TENG..TENG..TENG..
Dentingan jam mengagetkan Retha yang masih terpaku membaca komentar itu. Ia tak habis pikir bahwa sekarang waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam tepat. Time to go bed!
Cepat-cepat ia membalas komentar si Bunga Matahari itu.
ÿ To : My_Sunflower
Iya! Terima kasih. Sepertinya aku harus
Cepat-cepat pergi tidur
>Selamat malam
[sent]
Ctek! Lampu kamar pun mati. Retha telah selesai mematikan komputernya begitu selesai mengirim komentar balasan untuk si Bunga Matahari. Kini ia masih menatap langit-langit kamarnya yang gelap itu. Tanpa sadar ia bergumam,
“Menjadi diri yang kita inginkan.. menjadi diri sendiri..diri yang kita mau… apa aku bisa?”
Dan Retha pun terlelap dalam sejuta angan di alam mimpinya.
***
Sejak saat itu, sepulang dari terawih Retha selalu menumpahkan keluh kesah kesehariannya pada si Bunga Matahari. Ia merasa nyaman selama berteman dan bercerita banyak hal pada si Bunga Matahari.
Beberapa hari telah berlalu tak terasa bulan telah akan memasuki 10 hari terakhir di Ramadhan ini. Pagi ini adalah hari terakhir Retha untuk masuk sekolah. Biasanya anak-anak pada heboh karena akan pergi mudik liburan. Tapi nampaknya, Retha kelihatan paling tak bersemangat hari ini.
“Selamat pagi, Retha!”, sapa Agnes ceria.
“Ah, selamat pagi juga, Nes”,jawab Retha tak bersemangat.
“Eh Reth, sudah lihat hasil ulangan biologi kemarin? Tadi Bu Nurul mengumumkannya di depan kelas lho!”
“Hmm.. aku lagi malas sekarang, Nes. Pasti dapat nilai pas-pasan lagi. Aku sudah cukup stress akhir-akhir ini”, keluh Retha.
“Jangan berpikir begitu! Mungkin ada kalanya seseorang berada di atas dan di bawah. Nggak selamanya orang itu ada di atas, Reth. Aku tahu dulu kamu memang pintar dan pernah jadi juara kelas. Tapi yang aku lihat sekarang, kamu bukan seperti kamu yang dulu, Reth. Cobalah jadi dirimu yang biasanya. Jangan Cuma murung! Kamu juga harus introspeksi diri. Dan berpikirlah positif kedepannya. Aku ngomong gini karena dulu kamu selalu bisa menyelesaikan suatu masalah dengan jadi dirimu sendiri, Reth”, nasihat Agnes.
Retha tercenung mendengar perkataan teman sebangku yang baru dikenalnya selama setahun lebih itu. Agnes lumayan dekat dengan Retha sejak mereka sekelas di kls 2-A. Mungkin saat itu masih “malu-malu kucing” untuk sekedar ngobrol dan kebetulan juga masih ada Ana yang menemani Retha waktu itu makanya persahabatan mereka baru nampak sekarang.
Eits, bukan berarti Retha menduakan Ana, lho! Bagi Retha, Ana adalah sahabat terbaiknya dan sahabat pertamanya yang ia temui di SMP Negeri 1 Gresik ini. Namun banyak hal yang berubah seperti sejak kelas 3 smp ini. Mereka berdua terpisah kelas, tapi persahabatan mereka masih erat sebelum adanya ‘Peristiwa pada jam istirahat’ itu.
“Ehhmm.. mungkin kamu benar, Nes. Akhir-akhir ini aku memang lagi banyak masalah. Aaarrghh! Pasti sudah terlambat untuk sadar atau sekedar introspeksi diri. Aku tak mungkin bias masuk peringkat kelas lagi”,ucap Retha lirih dengan wajah murung dan sesal.
“Hoi, Reth! Aku bilang gitu bukan nyuruh kamu tambah murung. Biar kamu tambah semangat! Aku yakin kok kamu pasti bias. Buktinya waktu di kelas 2-A dulu, kamu bisa mertahanin peringkat satu, kan? Justru sekarang kamu harus bisa bangkit seperti dulu. Retha yang sekarang dan Retha yang dulu pasti tak jauh berbeda. Malah Retha yang sekarang pasti bisa lebih baik dari Retha yang dulu!”, komentar Agnes panjang lebar.
Nampaknya, komentar Agnes yang panjang lebar bisa bikin Retha mikir panjang lebar juga.
***
“Makasih ya, Nes. Kamu sudah mau dengerin keluh kesahku. Rasanya legaa banget!”, kata Retha dengan wajah sumringah.
Siang ini, Retha dan Agnes mampir ke food court Holand di dekat SMPN 1 Gresik. Agnes mengajak Retha ke sana untuk menenangkan pikiran sahabat sekaligus teman sebangkunya itu. Kini mereka baru saja kembali dari membayar pesanan di meja kasir.
“Yupt.. Don’t mention it, Mademoiselle… aku juga sebel banget liat wajah kamu yang selalu ditekuk kayak kayak nenek-nenek gitu”, jawab Agnes santai.
“EHEM..”
Tepat di saat itu, seorang nenek-nenek lewat di hadapan mereka. Ia melotot ke Agnes dengan tatapan yang tajam.
“Uupss..”,sela Retha sambil bergerak menutup mulutnya.
Sementara yang dipelototi cuma menggigit bibir sambil nyengir lebar.
***
ÿ To : My_Sunflower
Huwaa!! Aku senang banget! Tadi ada temenku
yang ngajakin ke Holand! Namanya Agnes. Trus kita ketemu nenek-nenek yang habis kita omongin. Eh, ternyata si Nenek nge-denger omongan kita tadi. Ahahaha..! kasian Agnes yang habis dipelototin sama si Nenek tadi XD
[sent]
Retha dengan bersemangat menceritakan apa yang dialaminya hari ini kepada si Bunga Matahari. Ia tak sabar menunggu komentar-komentar dari si Bunga Matahari yang selalu ‘online’ sepulang sholat Terawih. Maklumlah, habis cuma si Bunga Matahari saja sih yang suka mampir ke halaman blog-nya (ngaku, deh).
Tak berapa lama, komentar baru pun muncul.
ÿ To : Reth”MuDz
Wah! Pasti sangat menyenangkan ya? Aku juga
mau
.. kalau aku, pagi ini si Kumbang juga main ke
rumahku. Si Agnes pasti sangat memperhatikanmu,
beruntung sekali kamu punya sahabat sepertinya.
Emm.. Ngomong-ngomong, bagaimana dengan si Ana itu?..
[received]
Komentar si Bunga Matahari barusan tak terlalu mengagetkan Retha. Ia memang sudah menceritakan kesehariannya, keluh-kesah
-nya, termasuk hubungan dengan sahabat-sahabatnya. Namun agak-nya, kali ini Retha agak malas membahas masalahnya dengan Ana itu.
ÿ To : My_Sunflower
Sudahlah.. lupakan saja. Aku ingin menikmati
hari ini. Mungkin aku sudah memaafkannya, mungkin juga belum. Tapi untuk sementara aku ingin melupakan
-nya dulu. Oh ya, ngomong-ngomong kamu tinggal di daerah mana?
[sent]
“Huuufft…”,Retha menghela napas panjang.
Ia jadi sedikit mengkhawatirkan Ana. Walau bagaimanapun, Ana tetaplah sahabat pertamanya sejak bersekolah si SMPN 1 ini.
Pip Pip!
Ada komentar baru yang masuk. Pasti dari si Bunga Matahari.
ÿ To : Reth”MuDz
Jangan begitu. Dia pasti sangat
mengkhawatirkanmu. Coba saja bila kamu ada di posisinya, mungkin kamu akan merasakan hal yang sama.
[received]
‘Hm.. benar juga,ya! Apalagi Ana tipe orang yang agak
Sensitive. Ah, aku jadi ingin menelponnya setelah ini’,pikir Retha.
ÿ To : My_Sunflower
Terima kasih,ya
..kau membuatku merasa
lebih baik. Aku akan segera menelponnya setelah ini. Ngomong2 kamu belum menjawab pertanyaanku tadi. Dimana kamu tinggal?
[sent]
Retha nampak menanti-nantikan komentar balasan dari si Bunga Matahari.
Satu menit…Tiga menit… Lima menit…Sepuluh menit…
Beberapa menit telah berlalu.
Pip pip!
Akhirnya bunyi yang telah dinanti-nantikan Retha akhirnya terdengar juga.’Hmm,, kalau dipikir-pikir tidak biasanya ia si Bunga Matahari membalas komentarku selama ini’, batin Retha.
Klik.! Komentar pun terbuka
ÿ To : Reth”MuDz
Umm.. ngomong-ngomong soal tempat tinggal,
kamu pasti berpikir aku tinggal di sebuah padang bunga yang luas seperti di hutan Arizona misalnya. Tapi sepertinya tak lama lagi aku akan pergi dari tempat itu. Tak hanya meninggalkan padang bunga yang indah itu, namun juga meninggalkan blog ini…
[received]
Apa? Meninggalkan blog?!, seru Retha tajam.
Retha agak kaget membaca komentar barusan. Karena terlalu penasaran, Ia cepat-cepat membalas komentar si Bunga Matahari yang tak diduganya sama sekali itu.
ÿ To : My_Sunflower
Hei, apa maksudmu?! Meninggalkan blog ini?
Bukannya kita baru beberapa hari berteman? Kenapa begitu tiba-tiba?
[sent]
Kenapa begini?!, batin Retha kesal.
Walau si Bunga Matahari hanya sebuah blog maya yang
bisa dibilang ‘tak jelas’ pribadi aslinya (kecuali jika itu orang yang telah kita kenal di dunia nyata). Bagi Retha itu tak bisa dijadikan alasan untuk tidak berteman lebih dekat dengan orang-orang di dunia maya.
Apalagi jika kita sudah berteman dekat dengan orang itu. Menumpahkan semua masalah-masalah dan keseharian kita. Saling berbagi cerita dan pengalaman. Mungkin sekilas hanya dianggap sesuatu yang sepele, tapi itu bisa membentuk pribadi dan rasa percaya diri seseorang dalam lingkungan sekitarnya. Huuft~ Retha belum sanggup kehilangan seorang teman lagi. Sudah cukup Rizky saja, kenangnya.
Bagi Retha, si Bunga Matahari selalu membuatnya berpikir jernih dan tak melihat suatu hal dari satu sisi saja. Dari si Bunga Matahari, Retha belajar bahwa dunia maya tak hanya berisi kebohongan belaka untuk mencapai ambisi manusia yang negatif.
Buktinya, Retha bisa menemukan seorang teman yang berkesan untuknya seperti si Bunga Matahari. Isi kehidupan memang tak bisa ditebak, maka kita harus berpikir positif untuk kedepannya. Setidaknya hal itu yang ada dalam benak Retha.
Dan bila tiba-tiba seperti saat ini si Bunga Matahari yang selalu menjadi teman ngobrolnya itu berkata ‘selamat tinggal’ atau kata-kata perpisahan lainnya, siapa yang tidak syok?
Pip pip!
Ada komentar baru yang masuk. Retha pasti tahu siapa yang memberi komentar baru itu.
ÿ To : Reth”MuDz
Sebenarnya aku ingin membicarakannya sejak 2
hari lalu. Aku tak bisa hanya bergantung pada dunia maya selamanya, Reth. Tetapi bukan berarti aku menganggap pertemanan kita ini sepele. Justru itu, aku ingin kamu juga bisa lebih menatap kenyataan. Begitu pula denganku.
Ada saat dimana setangkai Bunga Matahari akan layu, tapi masih menyisakan biji-biji matahari yang menyebar di hamparan sambil terbawa angin. Kini anggaplah aku seperti biji-biji itu yang terbang terbawa angin, menyusuri setiap hamparan yang luas, dan akan menemukan tempat baru untuk tumbuh..
Bersemangatlah, Retha! Kau cukup jadi dirimu sendiri dan berusaha melakukan apa yang menurutmu terbaik. Mungkin adakalanya kamu akan merasa kesepian atau putus asa akan apa yang kamu lakukan. Namun perasaan seperti itu ada bukan untuk kita hindari, tapi kita hadapi. Aku yakin kamu pasti bisa! Karena kamu adalah teman pertama dan terbaikku di web blog ini
Terima kasih atas pertemanan yang indah ini. Sepertinya ini waktu yang tepat untuk berpisah, ya.
Psst : aku berkata seperti ini karena aku ingin kamu
berusaha untukku juga. Dan aku bisa ada di sini karena sebenarnya aku pun ingin agar diriku berusaha juga! Kita sama-sama berjuang,ya! Suatu saat kita pasti akan berjumpa kembali dengan keadaan yang berbeda
Sayonara, Retha
[received]
Retha termenung membaca komentar itu, atau lebih
tepatnya disebut sebagai komentar terakhir dari si Bunga Matahari. Ia tak menyangka akan berpisah secepat ini. Matanya mulai berkaca-
kaca. Buliran air mata yang tertahan di pelupuk matanya mulai mengucur deras. Dia menangis… seorang Retha yang selalu tegar itu menangis untuk yang kedua kalinya. Tapi di sudut hatinya yang terdalam, ia menyadari satu hal.
“Seharusnya aku yang berterima kasih..Terima kasih banyak Bunga Matahari, walo kamu nggak mendengarkannya, tapi aku tahu kamu bisa merasakannya. Kita.. kita pasti akan bertemu lagi…”, isak Retha.
Ia masih membenamkan kepalanya dalam dekapan tangan dan tangisnya. Ya, Retha menangis untuk seorang teman maya yang telah mengisi hari-harinya, saat sepulang terawih, dan mengajarkannya lebih banyak makna dari sebuah hidup dan persahabatan.
***
Tujuh hari telah berlalu…
Pada malam ke-29 di bulan Ramadhan ini, yang mana sedang berkumandang dengan nyaring suara-suara takbiran dari masjid-masjid. Walau terdengar sedikit berisik untuk menelepon seseorang, Retha tetap membulatkan tekadnya untuk melakukannya.
Ia terlihat serius menekan-nekan angka pada tombol telepon itu. Kemudian tinggal menunggu orang yang sedang ditelepon menjawab panggilan teleponnya, Retha nampak mengetuk-ngetuk jarinya di meja berkayu mahoni itu. Hingga seseorang yang diteleponnya menjawab panggilannya itu.
“Halo? Bisa berbicara dengan Ana?..”
***
“Reth, tolong taruhin opor ayamnya di meja makan ya!”, teriak Mama Retha dari dalam dapur.
“Iya, Ma!”, kata Retha dengan sigap mengambil opor ayam itu dari dalam dapur dan meletakkannya di meja makan.
Haahh~ Lebaran telah tiba… sesudah sholat Id, Retha sekeluarga berencana sarapan pagi bersama dengan menu khas lebaran. Ada opor ayam, ketupat, es serut, dll. Setelah itu mereka akan pergi berkunjung-kunjung ke rumah tetangga dan saudara yang terdekat lebih dahulu. Tapi sebelumnya…
Kriiing.. Kriiing.. telepon dari ruang tengah berbunyi.
“Halo?…oh ya, ada kok… Rethaa!,, ada telepon dari Ana, sayang”, teriak Mama Retha dari ruang tengah.
“I’m coming, Ma!”, jawab Retha sambil berlarian kecil menuju ruang tengah.
Dan ganggang telepon itu pun berpindah dari tangan seorang Ibu ke putri sulungnya itu.
“Eh Reth, ntar sore kita jadi, kan hang-out bareng anak-anak KAPAK 2-A?”, sahut Ana dari seberang telepon.
“Jadi dumz. Nanti aku kosong, kok. Eh, An. Jangan lupa bawa pesanan jajanku, ya!”, jawab Retha.
“Oke, oke, Non. Sampai ketemu nanti sore.
Assalamu’alaikum”, salam Ana.
“Wa’alaikumsalam”, jawab Retha sambil menutup telepon.
Sepertinya lebaran ini akan sangat berkesan untuk Retha. Banyak hal menyenangkan yang telah terjadi. Seperti saat ini, Ana dan Retha memang sudah baikan dan saling minta maaf dengan bicara terbuka satu sama lain di telepon pada malam takbiran kemarin.
‘Haa~ leganya! Ini pasti akan sangat menyenangkan!’batinnya.
***
Tek. Tek. Tek..
Retha asyik menekan keypad pada ponsel yang dipegangnya sambil berjalan menyusuri koridor ruang kepala sekolah. Lalu ia beranjak menuju kelas 3-B di ujung koridor. Pandangannya masih berkutat dengan ponsel di tangannya. Kelihatannya Retha sangat serius memandangi layar ponselnya, tetapi sesekali ia membalas sapaan teman-teman yang ia temui sepanjang koridor tadi.
“Yept! Selesai sudah”, katanya ceria sambil memasukkan ponsel itu ke kantong bajunya. Retha mulai berjalan memasuki kelas 3-B. Ia masih tersenyum-senyum akan tulisan yang baru saja ia post di halaman blog-nya
tadi.
>> Reth”MuDz’s Blog Review
——————————————————
Morning at 06:34 am September 30th 2009
Pagi ini cerah sekali! Aku tak sabar untuk menyapa teman-teman sekelas yang baru kembali dari mudiknya. Eh, hari ini kan hari pertama masuk sekolah setelah libur yang panjaaaang untuk lebaran. Dan kebetulan juga hari ini bertepatan dengan Hari Ulang Tahun Ana! Wah, wah, wah.. aku jadi ingin segera memberikan surprise untuknya
Oh ya, sekarang di sekolahku ada acara Halal bi Halal. Sekalian saja aku ucapkan Minal Aidzin wal Faidzin, Mohon maaf lahir dan batin, ya!!
Ngomong-ngomong aku membuat cerita tentang blog ini, lho untuk tugas mengarang bahasa Indonesia berdasar pengalaman pribadi. Aku juga menceritakan tentang si Bunga Matahari juga! Munakin akan sedikit ku-hiperbolis. Hehehe.. pada akhirnya, apa yang berawal dari blog, pasti berakhir dari blog juga,ya. (Jangan marah Bu, aku sudah mengerjakannya dengan baik, kok >__<).ahahaha..
NB : Ini pertama kalinya aku menulis blog dari ponsel. Silahkan
Beri komentar, ya! Aku tunggu!
Post by Reth”MuDz 5 minutes ago
——————————————————
[comments] [view] [favorites]
***
“Ana, selamat ulang tahun, ya! Ini aku bungkus kadonya buatmu. Maaf ya kalau terlalu gimana gitu. Aku memang paling payah membungkus sebuah kado”, kata Retha.
“Ah, tidak apa-apa, Reth. Terima kasih banyak, ya! Hehehe..”, kata Ana sambil tertawa.
Retha hanya tersenyum melihat Ana yang mulai membuka kado darinya itu. Ana kelihatan penasaran dengan apa yang ada di dalam kado mungil berbentuk kotak dan berwarna biru muda dengan motif bunga itu.
Retha menatap ke arah pepohonan di teras kelas. Matanya memandangi lapangan sekolah yang dipenuhi oleh hilir-mudik para siswa-siswi yang berseliweran di tengah lapangan untuk Halal Bi Halal. Sorotannya menggambarkan suatu pikiran yang dalam. Kemudian ia kembali menatap Ana yang masih sibuk menerka-nerka isi kado itu sambil mulai membuka kertas kado yang membungkusnya.
Hemft.. si Bunga Matahari telah benar-benar pergi. Saat ku-check status blog-nya beberapa menit lalu, ternyata blog itu sudah terblokir karena account ID-nya terhapus atau sudah tidak dipakai lagi. Memang jika kita membuat sebuah account web blog dan kita tidak mengaktifkan account web blog itu lagi. Kemungkinan blog itu sudah diblokir oleh komunitas web itu sendiri.Meski sedih rasanya berpisah secepat ini. Retha tetap mengingat pula pesan si Bunga Matahari untuknya disaat terakhir kali.
Sesaat Retha tersenyum, ia bergumam dalam hatinya sendiri. ‘Terima kasih Bunga Matahari. Walau kamu hanya teman mayaku, kamu tetaplah teman yang berkesan untukku. Tetaplah menjadi temanku, karena suatu saat mungkin kita akan bertemu lagi. Terima kasih untuk semuanya, aku akan selalu mengingat apa yang telah kau ajarkan untukku’.
“Eh Reth! Bagus sekali gelang ini!! Uwaa.. terima kasih ya!”, seru Ana membuyarkan lamunan Retha.
Retha kembali tersadar dan menanggapi perkataan Ana sambil tertawa,”Ehehehe.. Retha gitu loh. Asli dari Bandung tuh. Hahaha! Mukamu lucu deh, An. By the way, pulang yuk! Kelas udah sepi, nih”.
“Eh iya… Yuk!”
Mereka pun saling melempar tawa dan berlari kecil menyusuri koridor sekolah.
Fufufufu…sepertinya ini bisa jadi awal baru yang menyenangkan untuk Retha.
[September, 30th 2009 at 09:05 am]
SEKIAN.



Prada & Prejudice by Mandy Hubbard
JENIS BUKU: FIKSI
JUDUL BUKU: PRADA & PREJUDICE
PENGARANG : MANDY HUBBARD
PENERBIT: ATRIA
TAHUN TERBIT: 2010
TEBAL BUKU: 307 Halaman
Banyak orang menilai bahwa buku terjemahan yang diterbitkan di Indonesia memiliki gaya bahasa yang kaku dan kurang ekspresif dalam menyajikan isi buku. Bahkan cenderung memperparah isi ceritanya. Namun anggapan itu sepertinya tidak berlaku bagi sebuah buku bergenre novel remaja yang berjudul ‘Prada & Prejudice’.
Buku pertama karya Mandy Hubbard ini menceritakan tentang perjalanan Callie Montgomery, seorang gadis berusia 16 tahun yang ‘terdampar’ di abad 18 karena suatu insiden kecil yang disebabkan oleh sepatu Pradanya. Awalnya Callie yakin bahwa dengan sepasang sepatu Prada baru, ia akan menjadi lebih popular dan percaya diri di depan teman-temannya. Namun mengubah keadaan memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Baru beberapa langkah mengenakan sepatu Prada itu, Callie tiba-tiba tersandung dan pingsan.
Saat tersadar, Callie tengah berada di suatu tempat yang tidak pernah ia temui sebelumnya. Padahal ia yakin, sebelum pingsan dirinya masih berjalan-jalan di sekitar pusat kota London.
Setelah dua mataku terbuka, bagaimana pun, sebuah masalah baru hadir: Aku sedang duduk di atas tanah. Tanah yang gembur dan basah. Tangan kiriku, yang kujadikan tumpuan, melesak ke dalam tanah. Aku langsung mendongak .(hal. 19)
Deretan pepohonan dimana-mana, suara dentuman aneh dari kereta kuda yang melewatinya, dan pakaian orang-orang yang terlalu kuno dimatanya. Tapi Callie tidak mau repot-repot mempercayai apa yang dilihatnya. Mati-matian ia berusaha menyeret kakinya untuk sesegera mungkin beranjak dari tempat aneh itu dan pergi mencari pusat kota London, tempat seharusnya dia berada.
Ini pasti tidak sungguh-sungguh terjadi. Aku tidak ingat pernah melihat sebatang pun pohon di sini. Mungkin tempat ini ada di belakang pertokoan. Mungkin seseorang telah memindahkanku dari jalan yang ramai. (hal. 21)
Dengan langkah terseok-seok menyusuri jalan pepohonan, Callie justru menemukan sebuah rumah besar seperti kastil yang menyerupai istana. Di sana ia bertemu dengan seorang gadis bangsawan bernama Emily yang mau menerimanya dengan penuh keramahan. Tetapi Callie juga bertemu dengan Alex, sang Duke muda yang merupakan sepupu Emily dan sekaligus pemilik kastil tersebut.
Aku melongok melalui pintu yang masih setengah tertutup, berharap bisa melihat gadis itu walaupun hanya sekilas, tapi dia langsung menyongsong dan memelukku erat-erat sebelum aku sempat memperhatikan rambut cokelat dan kulit pucat mulusnya…. (hal. 29)
…. Dia memakai pakaian bergaya kuno, seperti lainnya, tapi entah mengapa, pada dirinya kelihatannya… berbeda. Jas pelautnya yang menonjolkan bahu bidang dan pinggang rampingnya. Celana kulit rusa ketat melapisi kakinya yang panjang dan langsing, dan sepatu lars setinggi lututnya membuat keseluruhan penampilannya… wah? Namun tetap saja, walaupun penampilannya aneh, dia kelihatan formal dan mengancam, dan juga keren. Bagaimana bisa seorang cowok berpakaian seperti itu dan tetap kelihatan sangat tampan? (hal. 45)
Di tengah kekalutan akan dunia yang sama sekali asing baginya, Callie harus menyelamatkan Emily dari perjodohan paksa dan melawan Alex yang sepertinya sangat membencinya. Mampukah Callie menolong Emily? Akankah Callie berhasil kembali ke abad ini? Dan dapatkan ia membuka pintu hati Alex yang dingin dan beku?
Suguhan cerita yang menarik dengan mengambil latar kehidupan bangsawan Inggris pada awal abad 18 pada novel ini juga dipercantik dengan balutan cover yang sangat elegan dibanding dengan versi aslinya. Meski begitu, para pembaca terutama para remaja yang hendak membaca buku ini juga harus sedikit menelan kekecewaan karena ending dari ceritanya agak menggantung dan membuat penasaran. Tapi kekecewaan itu mungkin bisa terobati dengan alur cerita yang tidak terduga dan penokohan yang kreatif dari penulis.
Buku ini juga memberi pelajaran berharga buat kita agar bisa menjadi lebih berpikir positif dan percaya pada diri sendiri.
Mereka tergiur pada kekayaan, gelar, dan popularitas. Dan begitu kau memilikinya, mereka akan menjadi sahabat barumu. Tetapi, mereka tidak akan pernah, dalam sejuta tahun sekalipun, menjadi teman sejatimu. Seperti Alex dan Emily. (hal. 299)
Benar-benar cocok untuk bacaan ringan di waktu luang. Jadi, selamat membaca!
( XA/07)