Fera is Here.. ♪

10 Februari 2011

Prada & Prejudice by Mandy Hubbard

Filed under: Comment~ — F.rRaa ♫ @ 9:41 pm

 JENIS BUKU:  FIKSI
 JUDUL BUKU:  PRADA & PREJUDICE
 PENGARANG :  MANDY HUBBARD
 PENERBIT:  ATRIA
 TAHUN TERBIT:  2010
 TEBAL BUKU:  307 Halaman

 

 

Banyak orang menilai bahwa buku terjemahan yang diterbitkan di Indonesia memiliki gaya bahasa yang kaku dan kurang ekspresif dalam menyajikan isi buku. Bahkan cenderung memperparah isi ceritanya. Namun anggapan itu sepertinya tidak berlaku bagi sebuah buku bergenre novel remaja yang berjudul ‘Prada & Prejudice’.

Buku pertama karya Mandy Hubbard ini menceritakan tentang perjalanan Callie Montgomery, seorang gadis berusia 16 tahun yang ‘terdampar’ di abad 18 karena suatu insiden kecil yang disebabkan oleh sepatu Pradanya. Awalnya Callie yakin bahwa dengan sepasang sepatu Prada baru, ia akan menjadi lebih popular dan percaya diri di depan teman-temannya. Namun mengubah keadaan memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Baru beberapa langkah mengenakan sepatu Prada itu, Callie tiba-tiba tersandung dan pingsan.
Saat tersadar, Callie tengah berada di suatu tempat yang tidak pernah ia temui sebelumnya. Padahal ia yakin, sebelum pingsan dirinya masih berjalan-jalan di sekitar pusat kota London.

Setelah dua mataku terbuka, bagaimana pun, sebuah masalah baru hadir: Aku sedang duduk di atas tanah. Tanah yang gembur dan basah. Tangan kiriku, yang kujadikan tumpuan, melesak ke dalam tanah. Aku langsung mendongak .(hal. 19)

Deretan pepohonan dimana-mana, suara dentuman aneh dari kereta kuda yang melewatinya, dan pakaian orang-orang yang terlalu kuno dimatanya. Tapi Callie tidak mau repot-repot mempercayai apa yang dilihatnya. Mati-matian ia berusaha menyeret kakinya untuk sesegera mungkin beranjak dari tempat aneh itu dan pergi mencari pusat kota London, tempat seharusnya dia berada.

Ini pasti tidak sungguh-sungguh terjadi. Aku tidak ingat pernah melihat sebatang pun pohon di sini. Mungkin tempat ini ada di belakang pertokoan. Mungkin seseorang telah memindahkanku dari jalan yang ramai. (hal. 21)

Dengan langkah terseok-seok menyusuri jalan pepohonan, Callie justru menemukan sebuah rumah besar seperti kastil yang menyerupai istana. Di sana ia bertemu dengan seorang gadis bangsawan bernama Emily yang mau menerimanya dengan penuh keramahan. Tetapi Callie juga bertemu dengan Alex, sang Duke muda yang merupakan sepupu Emily dan sekaligus pemilik kastil tersebut.

Aku melongok melalui pintu yang masih setengah tertutup, berharap bisa melihat gadis itu walaupun hanya sekilas, tapi dia langsung menyongsong dan memelukku erat-erat sebelum aku sempat memperhatikan rambut cokelat dan kulit pucat mulusnya…. (hal. 29)

…. Dia memakai pakaian bergaya kuno, seperti lainnya, tapi entah mengapa, pada dirinya kelihatannya… berbeda. Jas pelautnya yang menonjolkan bahu bidang dan pinggang rampingnya. Celana kulit rusa ketat melapisi kakinya yang panjang dan langsing, dan sepatu lars setinggi lututnya membuat keseluruhan penampilannya… wah? Namun tetap saja, walaupun penampilannya aneh, dia kelihatan formal dan mengancam, dan juga keren. Bagaimana bisa seorang cowok berpakaian seperti itu dan tetap kelihatan sangat tampan? (hal. 45)

Di tengah kekalutan akan dunia yang sama sekali asing baginya, Callie harus menyelamatkan Emily dari perjodohan paksa dan melawan Alex yang sepertinya sangat membencinya. Mampukah Callie menolong Emily? Akankah Callie berhasil kembali ke abad ini? Dan dapatkan ia membuka pintu hati Alex yang dingin dan beku?

Suguhan cerita yang menarik dengan mengambil latar kehidupan bangsawan Inggris pada awal abad 18 pada novel ini juga dipercantik dengan balutan cover yang sangat elegan dibanding dengan versi aslinya. Meski begitu, para pembaca terutama para remaja yang hendak membaca buku ini juga harus sedikit menelan kekecewaan karena ending dari ceritanya agak menggantung dan membuat penasaran. Tapi kekecewaan itu mungkin bisa terobati dengan alur cerita yang tidak terduga dan penokohan yang kreatif dari penulis.
Buku ini juga memberi pelajaran berharga buat kita agar bisa menjadi lebih berpikir positif dan percaya pada diri sendiri.

Mereka tergiur pada kekayaan, gelar, dan popularitas. Dan begitu kau memilikinya, mereka akan menjadi sahabat barumu. Tetapi, mereka tidak akan pernah, dalam sejuta tahun sekalipun, menjadi teman sejatimu. Seperti Alex dan Emily. (hal. 299)

Benar-benar cocok untuk bacaan ringan di waktu luang. Jadi, selamat membaca!

( XA/07)

Diary si Bunga Matahari

Filed under: Comment~ — F.rRaa ♫ @ 9:26 pm

 

            B

RAKK!! Pintu kamar terbanting keras. Derap langkah Retha terdengar memasuki ruangan yang sudah ia huni sejak 13 tahun lalu itu. Raut mukanya kusut, air mata yang sejak tadi ditahannya mulai mengucur deras membasahi pipinya.

          “Huh! Kenapa sih aku tidak bisa melakukannya! Kenapa di saat begini malah ada masalah kayak gini!”, keluh Retha kesal.

          Ya, hari ini banyak hal yang telah terjadi. Mulai hal terkecil sampai yang terbesar, Dari yang biasa saja sampai yang luar biasa. Semuanya selalu menghiasi hari-hari Retha di masa-masa SMP-nya ini.

Tapi nampaknya, ada yang tak beres. Retha memang selalu berwajah kusut sepulang dari sekolah. Maklum, sejak menginjak bangku kelas tiga SMP, banyak kegiatan yang semakin menguras tenaganya. Namun tak seperti biasanya ia semurung ini.

Retha meletakkan tas kuningnya, melepas semua atribut seragam yang dipakainya, lalu menggantinya dengan  pakaian santai bermotif Teddy Bear dari dalam almari. Ia menghela napas panjang seraya merebahkan diri dalam keempukan kasur tidurnya yang berselimut spray putih salju.

Selama beberapa saat, benaknya melayang memikirkan sesuatu. Sorot matanya menatap langit-langit kamar dengan sayu dan setengah melamun. Sedetik berikutnya, Retha telah terlelap dalam pikiran di alam bawah sadarnya.

***

Klik. Klik..

          Suara tombol mouse terlihat memilih beberapa ikon pada layar komputer sambil mengiringi bunyi detak jam yang menunjukkan pukul 20.00 WIB. Retha terlihat lebih segar dari sebelumnya. Bola matanya ikut memainkan arah panah mouse pada layar komputer itu.

Hari ini di pertengahan awal bulan September, bertepatan dengan hari ke-11 di bulan Ramadhan. Biasanya sehabis sholat terawih di masjid gang belakang, Retha selalu menghabiskan malamnya di depan komputer kesayangannya itu.

“Ah! Ketemu!”

          Ini dia yang kucari! Situs blog terpopuler dan paling digemari saat ini, batin Retha.

         Selamat datang di Halaman awal web blog xxxxx. Ini halaman dimana anda bisa memiliki dunia milik anda sendiri, menjadi diri yang anda mau, dan menumpahkan semua keluh kesah anda. Silakan…..

Retha asyik membaca halaman awal web blog itu, sampai-sampai ia tak sadar pintu kamarnya diketuk oleh seseorang.

“Retha? Ini Mama, sayang. Makan malamnya sudah Mama siapin di meja makan. Mama mau pergi sebentar sama Papa. Jaga rumahnya,ya”,kata Mama Retha dari balik pintu.

“Iya Ma. Beres! Hati-hati ya. Dadaa..!”,seru Retha dari dalam kamar.

Dasar Retha!

Mamanya hanya menggeleng pelan dan berjalan menjauhi pintu kamar putrinya itu.

            *  *  *

         “Kenapa kamu ngelakuin itu?!”,tanya Retha kesal.

         “Reth, aku cuma ingin ngebantu kamu buat ngungkapin perasaanmu itu. Kamu jangan marah lagi, dong. Please..”,jawab Ana lemah.

         “Gimana nggak marah? Kamu justru sukses bikin dia ngejauhin aku setelah kamu lakuin itu! Apalagi dia sudah tahu soal perasaanku ke dia! Kenapa kamu tega, An…”, keluh Retha sambil menahan tangisnya.

         “Tapi Reth….”

         “Oke! Aku tahu niatmu baik. Tapi please! Mulai sekarang jangan urusin masalahku lagi. Dan jangan ikut campur! Aku perlu waktu buat sendiri!”,seru Retha ketus.

‘Dia’ yang dimaksud Retha dan Ana adalah orang yang disukai oleh Retha sejak kelas 2SMPdulu. Namanya Rendi, awalnya Retha tak menyadari perasaannya pada Rendi sudah begitu besar. Dulu, Retha dan Rendi selalu bersaing untuk menjadi yang terbaik di kelas 2-F dengan teman-teman lainnya yang tak kalah pintar juga seperti Dita dan Frio. Namun di akhir semester satu, Retha-lah yang berhasil meraih peringkat 1 , sedangkan Rendi masih di bawah peringkatnya.

         Meski begitu, hubungan mereka mulai akrab saat mendekati UAS semester dua. Pada waktu itu, persaingan nilai sungguh ketat! Rendi berhasil mendapat nilai terbaik untuk pelajaranIPSyang dirasa paling sulit karena kebanyakan menghafal, sedangkan Retha hanya mendapat nilai standart atau bisa dibilang pas-pasan. Tentu saja Retha sempat frustasi akan hal itu. Tapi tak lama kemudian Retha bangkit dan hasilnya, dia bisa mempertahankan peringkat 1-nya di kelas 2-F.

         Di kelas tiga ini, Retha berpisah dengan Rendi. Retha di kelas 3-E, sedangkan Rendi di kelas 3-B. Walau jarang bertemu, sesekali Retha mampir ke kelas 3-B dan menyapa kawan-kawannya di kelas 2-F dulu.

         Retha kesal dan lelah. Ia tak tahu kata-kata apa yang bisa menggambarkan perasaannya saat ini. Pikirannya berkunang memikirkan kembali kejadian sewaktu istirahat pertama tadi di sekolah.  Saat Ana, sahabat baiknya sendiri mengaku jika ia mengungkapkan perasaan Retha  pada Rendi tanpa seizinnya sejak kurang lebih seminggu yang lalu.

         Jadi wajar jika Retha sangat kecewa pada Ana. Terlebih lagi sejak kejadian itu, Rendi mulai menjauh dari dirinya.

          Aah.. serumit itukah menyukai seseorang?

***

         “Waaa! Lucunya… aku ingin memakai gambar ini untuk dinding wallpaper blog-ku!”seru Retha, bersemangat memilih gambar-gambar hasil browsing-nya. Ia memperhatikan satu gambar berisi pemandangan yang paling ia suka.

         Hmm.. padang bunga yang berwarna kekuningan. Terbentang begitu luas bagai hamparan di depan mata. Coba saja aku bisa ke sana”, angannya lagi sambil memainkan tombol mouse-nya.

          Pip pip.

          Suara speaker komputer berbunyi. Berarti ada respon dari web blog berupa pesan atau komentar mungkin, pikir Retha.

          Benar saja, pada kolom ‘Comment’ ia menemukan satu account pengguna memberikan komentar pada blognya.

          ‘Hi’

          Isi komentar tersebut.

          Retha sedikit heran jika ada orang yang mengiriminya komentar secepat ini. Padahal ia baru saja mendaftar di web blog itu.

          Penasaran. Ia pun membalas komentar itu dengan cepat. Retha mencoba membuka halaman blog si ‘akun misterius’ itu.

          “Wow!” Retha terpana.

          Retha tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Bagus sekali! serunya dalam hati. Sebuah gambarpadang bunga matahari yang luas! Seperti aslinya saja!

“Ah, pantas.. ternyata setelah diperhatikan ia memakai nama akun yang juga sesuai dengan image blog-nya. Umm.. ‘My Sunflower’.. cocok, cocok,” gumam Retha seraya mengirim pesannya.

Comment :

ÿ        To : My_Sunflower

Hai juga..😀

       Ngomong” wallpaper blog-mu bagus sekali..

 

Yak! Selesai. Lalu klik ‘send’. Retha sepertinya sangat senang bertemu teman baru yang mempunyai selera yang sama dengannya.

Beberapa menit kemudian, speaker komputer Retha berbunyi. Ternyata benar saja, ada sebuah komentar lagi masuk. Dari si Bunga Matahari! Siapa lagi coba, batin Retha. Dan komentar-komentar itu pun saling berbalas dalam beberapa menit saja. Dari si Bunga Matahari untuk Retha, begitu pula dari Retha untuk si Bunga Matahari.

ÿ       To : Reth”MuDz

Terima kasih 🙂

Salam kenal,ya. Aku juga menyukai wallpaper blog-mu.

[received]

 

ÿ       To : My_Sunflower

Aah iya.. sama2

       Panggil saja aku Retha. Namamu siapa?

[sent]

ÿ       To : Reth”MuDz

Aku si Bunga Matahari yang baru saja

memunculkan kuncupnya😀

[received]     

         “Hah? Bunga Matahari yang baru menguncup?”, gumam Retha heran.

ÿ       To : My_Sunflower

Hah? Yang kutanyakan itu namamu. Jangan

tersinggung, ya. Tapi aku sama sekali tak mengerti maksudmu..

[sent]

 

          Lamaa…tak ada balasan komentar. Huuftt~

          TENG..TENG..Bunyi lonceng menunjukkan pukul sembilan malam tepat. Retha sedikit kaget dan bingung. Apa perkataanku tadi membuatnya marah ya? Sampai-sampai tak membalas komentarku, pikir Retha.

Beberapa menit kemudian, speaker komputer Retha berbunyi. Ada komentar yang masuk!

          Ah syukurlah dia masih membalas komentarku, batin Retha.

ÿ       To : Reth”MuDz

Namaku tetap si Bunga Matahari ;D

Mungkin kamu menganggapnya aneh. Tapi inilah diriku yang kuinginkan. Aku si Bunga Matahari.

[received]

 

            Retha nampak berpikir sebentar. Kemudian ia menjawab komentar si Bunga Matahari itu.

ÿ       To : My_Sunflower

Dirimu yang kau inginkan?

[sent]

 

ÿ       To : Reth”MuD

Ya! Kenapa tidak? Di sini aku bisa menjadi

       sosok yang kuinginkan. Tak peduli komentar orang-

       orang di sekitarku. Bukankah di dunia maya kita bertemu

       dengan orang-orang yang memakai tampilan luar atau

       topeng mereka saja?

[received]

 

ÿ       To : My_Sunflower

Hey! Tak semuanya seperti itu. Mungkin aku

setuju dengan pendapatmu tentang ‘menjadi apa yang kita inginkan’. Tapi aku tak setuju tentang ‘orang-orang’ yang memakai topeng itu!

[sent]

 

          Huh! Dikiranya aku juga tak mau menjadi diri yang kuinginkan apa?! batin Retha kesal.

 

ÿ       To : Reth”MuD

Bukan begitu,Reth. Menjadi diri yang kita inginkan tak selalu menjadi diri kita sendiri. Kamu tahu maksudku? Seperti ketika ada seseorang yang ingin menjadi kaya untuk memenuhi ambisinya sendiri dengan menindas yang lemah.

Dan adapula seorang anak yang tega mengkhianati sahabatnya sendiri untuk jadian dengan gebetan sahabatnya, untuk memenuhi keinginannya. That’s reality, hampir menghalalkan segala cara untuk memenuhi keinginan masing-masing, untuk menjadi yang mereka inginkan. Jadi tak ada salahnya aku menyebut mereka memakai ‘topeng’ itu.

[received]

ÿ       To : My_Sunflower

Tapi tak semua orang seperti itu! Jangan menilai kepribadian

seseorang secara mayoritas saja! Mungkin pada kenyataan orang-orang memang memiliki setiap diri yang mereka inginkan. Tapi tak berarti ‘diri yang mereka inginkan’ itu mengarah ke perubahan yang jelek!

 

       Psst : sayangnya aku bukan orang yang suka

              mengkhianati sahabatku sendiri,tuh! Justru

              aku yang telah dikhiananti :p

[sent]

 

        Iiikh! Menjengkelkan sekali. Walau memang harus kuakui, mungkin kata-katanya ‘sedikit’ sesuai dengan kenyataan, gumam Retha.

Berikutnya si Bunga Matahari membalas komentar Retha dengan hal yang tak terduga oleh Retha sendiri.

ÿ       To : Reth”MuDz

Ahaha.. aku senang mengobrol denganmu😀

Menurut penilaian singkatku, kamu mungkin termasuk orang yang suka memperhatikan teman-teman dan orang-orang di sekitarmu. Jika itu benar, teruslah menjadi dirimu yang seperti itu dan kembangkan sayapmu. Kamu seperti si kupu-kupu yang membantu menyebarkan biji bungaku. Mulai sekarang dan seterusnya, kita berteman,ya..🙂

[received]

 

            TENG..TENG..TENG..

Dentingan jam mengagetkan Retha yang masih terpaku membaca komentar itu. Ia tak habis pikir bahwa sekarang waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam tepat. Time to go bed!

            Cepat-cepat ia membalas komentar si Bunga Matahari itu.

ÿ       To : My_Sunflower

Iya! Terima kasih. Tapi sepertinya aku harus cepat-cepat pergi tidur

>Selamat malam😉

[sent]

 

            Ctek! Lampu kamar pun mati.

            Retha telah mematikan komputernya begitu selesai mengirim komentar balasan untuk si Bunga Matahari. Kini ia masih menatap langit-langit kamarnya yang gelap. Tanpa sadar ia bergumam,

“Menjadi diri yang kita inginkan.. menjadi diri sendiri..diri yang kita mau… apa aku bisa?”

Dan Retha pun terlelap dalam sejuta angan di dalam mimpinya.

*  *  *

           Sejak saat itu, sepulang dari terawih Retha selalu menumpahkan keluh kesah kesehariannya pada si Bunga Matahari. Ia merasa nyaman selama berteman dan bercerita banyak hal di halaman blognya.

          Beberapa hari telah berlalu, tak terasa sehari lagi akan memasuki 10 hari terakhir di Ramadhan ini. Pagi ini adalah hari terakhir Retha untuk masuk sekolah. Biasanya anak-anak pada heboh karena akan pergi mudik liburan. Tapi nampaknya, hanya Retha yang tidak kelihatan bersemangat.

          “Selamat pagi, Retha!” sapa Agnes ceria.

          Mmh… selamat pagi juga, Nes,” balas Retha lesu.

          “Eh Reth, sudah lihat hasil ulangan biologi kemarin? Tadi Bu Nurul mengumumkannya di depan kantor guru lho!”

          Hmm.. aku lagi malas sekarang, Nes. Paling dapat nilai pas-pasan lagi. Aku sudah cukup stres akhir-akhir ini,” keluh Retha.

          “Jangan berpikir begitu! Mungkin ada kalanya seseorang berada di atas dan di bawah. Nggak selamanya orang itu ada di atas, Reth. Aku tahu dulu kamu memang pintar dan pernah jadi juara kelas. Tapi yang aku lihat sekarang, kamu bukan seperti kamu yang dulu, Reth. Cobalah jadi dirimu yang biasanya. Jangan cuma murung! Kamu juga harus introspeksi diri. Dan berpikirlah positif kedepannya. Aku ngomong gini karena dulu kamu selalu bisa menyelesaikan suatu masalah dengan jadi dirimu sendiri, Reth,” nasihat Agnes panjang lebar yang diakhiri dengan helaan napas panjang.

          Retha tercenung mendengar perkataan teman sebangku yang telah dikenalnya selama setahun lebih itu. Agnes lumayan dekat dengan Retha sejak mereka sekelas di kelas 2-F. Mungkin saat itu masih “malu-malu kucing” untuk sekedar ngobrol dan kebetulan juga masih ada Ana yang menemani Retha makanya kedekatan mereka baru terasa sekarang.

          Eits, bukan berarti Retha menduakan Ana, lho! Bagi Retha, Ana adalah sahabat terbaiknya dan sahabat pertamanya yang ia temui di SMP. Namun banyak hal yang berubah seperti sejak kelas tiga SMP ini. Mereka berdua terpisah kelas, tapi persahabatan mereka masih erat sebelum adanya ‘Peristiwa pada jam istirahat’ itu.

          “Ehhmm.. mungkin kamu benar, Nes. Akhir-akhir ini aku memang lagi banyak masalah. Aaarrghh! Pasti sudah terlambat untuk sadar atau sekedar introspeksi diri. Aku mungkin nggak bisa masuk peringkat kelas lagi,” ucap Retha kesal.

          “Hoi, Reth! Aku bilang gitu bukan nyuruh kamu tambah murung. Biar kamu tambah semangat! Aku yakin kok kamu bisa. Buktinya waktu di kelas 2-F dulu, kamu sanggup mertahanin peringkat satu, kan? Justru sekarang kamu harus bisa bangkit seperti dulu. Retha yang sekarang dan Retha yang dulu jauh berbedalah. Malah Retha yang sekarang pasti bisa lebih baik dari Retha yang dulu!” komentar Agnes menyemangati.

          Sepertinya komentar Agnes yang panjang lebar barusan bisa membuat Retha mikir  panjang lebar juga.

***

          Siang ini, Retha dan Agnes mampir ke food court di sekitar jalan raya dekat SMP. Agnes mengajak Retha kesana untuk menenangkan pikiran sahabat sekaligus teman sebangkunya itu. Kini mereka baru saja kembali dari membayar pesanan di meja kasir.

“Makasih ya, Nes. Kamu sudah mau dengerin curhatku. Rasanya legaa banget!” kata Retha sumringah.

“Yup.. Don’t mention it, Mademoiselle… aku juga sebel banget liat wajah kamu yang selalu ditekuk kayak nenek-nenek,” jawab Agnes santai.

“EHEM..”

Tepat saat itu, seorang nenek-nenek lewat di hadapan mereka. Ia melotot ke Agnes dengan tatapan yang tajam.

         “Upss..” sela Retha sambil bergerak menutup mulutnya.

          Sementara yang dipelototi cuma menggigit bibir sambil nyengir lebar.

   *  *  *

ÿ       To : My_Sunflower

Huwaa!! Aku senang banget! Tadi teman sebangkuku yang ngajakin aku

keluar! Namanya Agnes. Terus kita tadi ketemu nenek-nenek yang habis kita omongin. Eh, ternyata si Nenek nge-denger omongan kita tadi. Ahahaha..! kasian Agnes yang dipelototin bulat-bulat sama si Nenek itu😄

[sent]

          Retha dengan bersemangat menceritakan apa yang dialaminya hari ini kepada si Bunga Matahari. Ia tak sabar menunggu komentar-komentar dari si Bunga Matahari yang selalu ‘online’ sepulang sholat Terawih itu. Maklumlah, habis cuma si Bunga Matahari saja sih yang suka mampir ke halaman blog-nya (ngaku, deh).

          Tak berapa lama, komentar baru pun muncul.

 

ÿ       To : Reth”MuDz

Wah! Pasti sangat menyenangkan ya? Aku juga mau keluar buat jalan

jalan sekali-sekali😀

Agnes pasti sangat memperhatikanmu, beruntung sekali kamu punya teman sebangku sepengertian seperti dia. Emm.. Ngomong-ngomong, bagaimana dengan si Ana itu?

[received]

          Komentar si Bunga Matahari barusan tak terlalu mengagetkan Retha. Ia memang sudah menceritakan kesehariannya, keluh-kesahnya, termasuk hubungan dengan sahabat-sahabatnya. Namun saat ini, rasanya Retha agak malas membahas masalahnya dengan Ana itu.

ÿ       To : My_Sunflower

Sudahlah.. lupakan saja. Aku ingin menikmati hari ini. Mungkin aku

sudah memaafkannya, mungkin juga belum. Tapi untuk sementara aku ingin melupakan soalnya dulu. Oh ya, ngomong-ngomong kamu tinggal di daerah mana?

[sent]

           

          “Huuufft…”,Retha menghela napas panjang.  Ia jadi sedikit mengkhawatirkan Ana. Walau bagaimanapun, Ana tetaplah sahabat pertamanya sejak bersekolah di SMP.

          Pip Pip!

Ada komentar baru yang masuk. Siapa lagi kalau bukan dari si Bunga Matahari.

ÿ       To : Reth”MuDz

Jangan begitu. Dia pasti sangat mengkhawatirkanmu. Coba saja bila

kamu ada di posisinya, mungkin kamu akan merasakan hal yang sama.

[received]

 

          Hm.. benar juga,ya! Apalagi Ana tipe orang yang agak sensitif. Umh… aku jadi ingin menelponnya setelah ini, pikir Retha.

ÿ       To : My_Sunflower

Terima kasih,ya🙂 ..kau membuatku merasa lebih baik. Aku akan

segera menelpon Ana setelah ini. Ngomong-ngomong kamu belum menjawab pertanyaanku tadi. Dimana kamu tinggal?                         

[sent]

          Retha nampak menanti-nantikan komentar balasan dari si Bunga Matahari.

Satu menit…Tiga menit…Limamenit…Sepuluh menit… Beberapa menit telah berlalu.

         Pip pip!

Akhirnya bunyi yang telah dinanti-nantikan Retha akhirnya terdengar juga.

        ’Hmm.. kalau dipikir-pikir tidak biasanya ia si Bunga Matahari membalas komentarku selama ini’, batin Retha.

Klik.! Komentar pun terbuka

ÿ       To : Reth”MuDz

Umm.. ngomong-ngomong soal tempat tinggal, kamu pasti berpikir aku

tinggal di sebuah padang bunga yang luas seperti di hutan Arizona misalnya. Tapi sepertinya tak lama lagi aku akan pergi dari tempat itu. Tak hanya meninggalkan padang bunga yang indah itu, namun juga meninggalkan blog ini…

[received]

 

          Apa? Meninggalkan blog?! pikir Retha tajam. Retha lebih kaget membaca isi komentar barusan. Karena terlalu penasaran, Ia cepat-cepat membalas komentar tak terduga si Bunga Matahari itu.

ÿ       To : My_Sunflower

Hei, apa maksudmu?! Meninggalkan blog ini?

Bukannya kita baru beberapa hari berteman? Kenapa begitu tiba-tiba?

[sent]

 

          Kenapa begini?! batin Retha kesal.

          Walau si Bunga Matahari hanya sebuah blog maya yang bisa dibilang ‘tak jelas’ pribadi aslinya (kecuali jika itu orang yang telah kita kenal di dunia nyata). Bagi Retha itu tak bisa dijadikan alasan untuk tidak berteman lebih dekat dengan orang-orang di dunia maya.

Apalagi jika kita sudah berteman dekat dengan orang itu. Menumpahkan semua masalah-masalah dan keseharian kita. Saling berbagi cerita dan pengalaman. Mungkin sekilas hanya dianggap sesuatu yang sepele, tapi itu bisa membentuk rasa percaya diri tersendiri bagi seseorang dalam menghadapi lingkungan di sekitarnya. Huuft~ Retha belum sanggup kehilangan seorang teman lagi. Sudah cukup Rendi saja, kenangnya.

Bagi Retha, si Bunga Matahari selalu membuatnya berpikir lebih jernih dan tak melihat suatu hal dari satu sisi saja. Dari si Bunga Matahari, Retha belajar bahwa dunia maya tak hanya berisi kebohongan belaka. Buktinya, Retha bisa menemukan seorang teman yang berkesan baginya seperti si Bunga Matahari. Jalannya kehidupan memang tak bisa ditebak, tapi kita harus tetap bisa berpikir positif kedepannya. Setidaknya hal itu yang ada dalam benak Retha.

Dan bila tiba-tiba, seperti saat ini si Bunga Matahari yang selalu menjadi teman ngobrolnya itu berkata ‘selamat tinggal’ atau kata-kata perpisahan lainnya, siapa yang tidak syok?

           Pip pip!

Ada komentar baru yang masuk. Retha pasti tahu siapa yang memberi komentar baru itu.

ÿ       To : Reth”MuDz

Sebenarnya aku ingin membicarakannya sejak 2 hari lalu. Aku tak bisa

hanya bergantung pada dunia maya selamanya, Reth. Tetapi bukan berarti aku menganggap pertemanan kita ini sepele. Justru itu, aku ingin kamu juga bisa lebih menatap kenyataan. Begitu pula denganku.

       Ada saat dimana setangkai Bunga Matahari akan layu, tapi ia masih menyisakan biji-biji matahari yang menyebar terbawa angin. Kini anggaplah aku seperti biji-biji itu, yang terbang terbawa angin, menyusuri setiap hamparan yang luas, dan akan menemukan tempat baru untuk tumbuh..

Bersemangatlah, Retha! Kau cukup jadi dirimu sendiri dan berusaha melakukan apa yang menurutmu terbaik. Mungkin adakalanya kamu akan merasa kesepian atau putus asa akan apa yang kamu lakukan. Namun perasaan seperti itu ada bukan untuk kita hindari, tapi kita hadapi. Aku yakin kamu mampu melaluinya! Karena menurutku, kamu adalah teman terbaikku di web blog ini. Aku percaya padamu, Retha🙂

Terima kasih atas pertemanan yang indah ini. Sepertinya ini waktu yang tepat untuk berpisah, ya.

 

PS   : aku berkata seperti ini karena aku ingin kamu berusaha untukku juga.

Dan aku bisa ada di sini karena sebenarnya aku pun ingin agar diriku berusaha! Jadi, Kita sama-sama berjuang,ya! Aku berdo’a semoga suatu saat kita akan berjumpa kembali dengan keadaan yang berbeda😀

                          

                           Sayonara, Retha🙂

 

[received]

 

          Retha termenung membaca komentar itu, atau lebih tepatnya disebut sebagai komentar terakhir dari si Bunga Matahari. Ia tak menyangka akan berpisah secepat ini. Matanya mulai berkaca-kaca. Buliran air mata yang tertahan di pelupuk matanya mulai mengucur deras. Dia menangis… seorang Retha yang selalu tegar itu menangis untuk yang kesekian kalinya. Tapi di sudut hatinya yang terdalam, ia menyadari satu hal.

“Seharusnya aku yang berterima kasih..Terima kasih banyak Bunga Matahari, walau kamu nggak mendengarkannya, tapi aku tahu kamu bisa merasakannya. Kita.. kita pasti akan bertemu lagi…” isak Retha.

Ia masih membenamkan kepalanya dalam dekapan tangan dan tangisnya. Ya, Retha menangis untuk seorang teman maya yang telah mengisi hari-harinya saat sepulang terawih, memberitahunya lebih banyak makna dari sebuah hidup dan persahabatan.

***

Tujuh hari telah berlalu…

          Pada malam ke-29 di bulan Ramadhan ini, yang mana sedang berkumandang dengan nyaring suara-suara takbiran dari masjid-masjid. Walau terdengar agak berisik untuk menelepon seseorang, Retha tetap membulatkan tekadnya sesuai niatan awal.

Ia terlihat serius menekan-nekan angka pada tombol telepon. Kemudian tinggal menunggu orang yang sedang ditelepon menjawab panggilannya. Retha nampak mengetuk-ngetukkan jarinya di meja berkayu mahoni itu. Hingga seseorang menjawab dari telepon seberang.

“Halo? Bisa bicara dengan Ana?”

***

         “Reth, tolong taruhin opor ayamnya di meja makan ya!” teriak Mama Retha dari dalam dapur.

“Iya, Ma!” Retha dengan sigap mengambil opor ayam itu dan meletakkannya di meja makan.

          Haahh~ Lebaran telah tiba… sesudah sholat Id, Retha sekeluarga berencana sarapan pagi bersama dengan menu khas lebaran. Ada opor ayam, ketupat, es sirup buah, dan lain-lain. Setelah itu mereka berencana pergi mengunjungi rumah tetangga dan saudara yang terdekat lebih dahulu. Tapi sebelumnya…

         Kriiing.. Kriiing..  telepon dari ruang tengah berbunyi.

“Halo?…oh ya, ada kok… Rethaa!,, ada telepon dari Ana, sayang,” teriak Mama Retha.

I’m coming, Ma!” jawab Retha sambil berlarian kecil menghampiri meja telepon.

Dan ganggang telepon itu pun berpindah dari tangan seorang Ibu ke putri sulungnya itu.

“Reth, ntar sore kita jadi kan hang-out bareng anak-anak KAPAK?” tanya Ana menyebut nama julukan kelas mereka dulu.

“Jadi dumz. Nanti aku kosong, kok. Eh, An. Jangan lupa bawa pesanan jajanku, ya!” timpal Retha mengingatkan.

“Oke, oke, Non. Sampai ketemu nanti sore.Assalamu’alaikum,” salam Ana.

“Wa’alaikumsalam”, jawab Retha sambil menutup telepon.

        Sepertinya lebaran ini akan sangat berkesan untuk Retha. Banyak hal menyenangkan yang terjadi. Seperti saat ini, Ana dan Retha memang sudah berbaikan dan saling minta maaf serta lebih bicara terbuka satu sama lain di telepon pada malam takbiran kemarin.

          Haa~ leganya! Nanti sore bakal seru nih!’ batinnya.

***

            Tak. Tik. Tuk. Tek. Tek.

Retha asyik menekan keypad ponsel yang dipegangnya sambil berjalan menyusuri koridor sebelah barat sekolah. Lalu ia beranjak menuju kelas 3-E yang berada di ujung koridor. Pandangannya masih berkutat dengan ponsel di tangannya. Kelihatannya Retha sangat serius memandangi layar ponselnya, tetapi sesekali ia membalas sapaan teman-teman yang ia temui di sepanjang koridor tadi.

“Yept! Selesai sudah,” katanya ceria sembari memasukkan ponsel itu ke kantong bajunya. Retha mulai berjalan memasuki kelas 3-E. Ia masih tersenyum-senyum sendiri mengingat tulisan yang baru saja ia post di halaman blog-nya tadi.

>> Reth”MuDz’s Blog Review

——————————————————

Morning at 06:34 am     September 30th 2009

 

Pagi ini cerah sekali! Aku tak sabar untuk menyapa teman-teman sekelas yang baru kembali dari mudiknya. Eh, hari inikanhari pertama masuk sekolah setelah libur yang panjaaaang untuk lebaran. Dan kebetulan juga hari ini bertepatan dengan Hari Ulang Tahun Ana! Wah, wah, wah.. aku jadi ingin segera memberikan surprise untuknya😀

Oh ya, sekarang di sekolahku ada acara Halal bi Halal. Sekalian saja aku ucapkan Minal Aidzin wal Faidzin, Mohon maaf lahir dan batin, ya!!😉

Ngomong-ngomong aku membuat cerita tentang blog ini lho, sekaligus menjadi tugas mengarang bahasa indonesiaku berdasar pengalaman pribadi. Aku juga menceritakan tentang si Bunga Matahari! Munakin akan sedikit ku-hiperbolis, sih. Hehehe.. pada akhirnya, apa yang berawal dari blog, pasti berakhir dari blog juga,ya. (Jangan marah Bu, aku bakal mengerjakan karanganku dengan baik, kok >__<).ahahaha..

 

Psst :  Ini pertama kalinya aku menulis blog dari ponsel. Silakan beri komentar, ya!

Aku tunggu!^^

Posted by Reth”MuDz 5 minutes ago

——————————————————

[comments]  [view] [favorites]

 

*  *  *

          “Ana, selamat ulang tahun, ya! Ini aku bungkus kadonya buatmu. Maaf kalau terlalu gimana gitu. Aku memang paling payah membungkus sebuah kado,” ungkap Retha.

“Tidak apa-apa, Reth. Terima kasih banyak, ya! Hehehe..” Ana tertawa senang.

Retha hanya tersenyum menyaksikan Ana yang kelihatannya sangat penasaran dengan apa yang ada di dalam kado mungil berbentuk kotak dan berwarna biru muda dengan motif bunga itu.

Retha menatap ke arah pepohonan di teras kelas. Matanya memandangi lapangan sekolah yang dipenuhi oleh hilir-mudik para siswa-siswi yang berseliweran di tengah lapangan untuk Halal Bi Halal. Tatapan matanya menerawang sesaat. Kemudian ia kembali memperhatikan Ana yang masih sibuk menerka-nerka isi kado itu sambil mulai membuka kertas kado yang membungkusnya.

         Hmft.. si Bunga Matahari telah benar-benar pergi. Saat ku-check status blog-nya beberapa menit lalu, ternyata blog itu sudah terblokir karena account ID-nya terhapus atau sudah tidak dipakai lagi. Memang jika kita membuat sebuah account web blog dan kita tidak log in di akun web blog itu lagi dalam jangka waktu tertentu yang cukup lama.  Kemungkinan blog itu sudah diblokir oleh administrator web itu sendiri.Meski sedih rasanya berpisah secepat ini. Retha tetap mengingat pula pesan si Bunga Matahari untuknya di saat terakhir.

          Sejenak Retha tersenyum, ia bergumam dalam hatinya sendiri. ‘Terima kasih Bunga Matahari. Walau kamu hanya teman mayaku, kamu tetaplah teman yang berkesan untukku. Tetaplah menjadi temanku, karena suatu saat mungkin kita akan bertemu lagi. Terima kasih untuk semuanya, aku akan selalu mengingat apa yang telah kau ajarkan untukku,’ kenang Retha.

          “Eh Reth! Bagus sekali gelang ini!! Uwaa.. terima kasih ya!” seru Ana membuyarkan lamunan Retha.

          Retha kembali tersadar dan menanggapi perkataan Ana sambil tertawa.

          “Ehehehe.. Retha gitu loh. Asli dari Bandungtuh. Hahaha! Mukamu lucu deh, An. By the way, pulang yuk! Kelas udah sepi, nih.”

          “Eh iya… Yuk!”

          Mereka pun saling melempar tawa dan berlari kecil menyusuri koridor sekolah.

          Fufufufu…sepertinya ini bisa jadi awal baru yang cerah untuk Retha.

[September, 30th 2009 at 09:05 am]

P.S: Sekolah memulangkan siswa lebih awal karena setelah

                                                                                                                                           Halal Bi Halal tidak ada pelajaran. Yeeeeeeei…..……!

SELESAI


Jumbo and the Small Fish (English Version)

Filed under: Comment~ — F.rRaa ♫ @ 8:51 pm

 

In the bottom of the sea, there were many species of fish. They swam here and there. Sometimes, the fish was going to the edge when a big fish came.

Once day, Binbin the starfish saw a big fish was sad. Binbin approached him.

“Hy, what’s your name? Why do you alone here?”, Binbin asked.
“My name is Jumbo, the whale’s child. I was sad because they don’t want to play with me”, Jumbo was saying when he held up a group of a small fishes were playing with happy and sometimes was laughing.
“Oh, it makes you sad?”, Binbin said again. “It just know it, they mocked me with a bad word. They said, I’m ugly and my body is big. I’m not nimble if I play with as. Do you think I will be like this?”, Jumbo asked.
“I think you aren’t will be like this. What did they say isn’t true. Of course if you are big. But isn’t true if you are ugly”, Binbin said for make Jumbo smile.
“Let see your around, it have many fishes are bigger than you, but they are believe with himself”, Binbin said again. “And then, why the small fish said like that to me?”, Jumbo asked again.
“Ummm… maybe they have another reason why they do that to you. But, you shouldn’t annoyed. You must be a good friends to the small fish, yeah?”, Binbin said softness. After heard it, Jumbo wasn’t sad again, even his eyes was look so happiness.
3 days was away… While Jumbo was swimming in the middle of koral, He heard somebody call out. “Help! Please help!”, screamed that voice.
Jumbo looked for that voice from. Jumbo was searching for it when his tail kicked something. After he checked, there was a casting net! And Jumbo saw many small fishes there.
“Help! Help! Jumbo, please Help! Please get outside we’re from here!”, cried out of the small fish. “Don’t be scared! I’m going to help!”, Jumbo answered.
When Jumbo was going to help the small fish, suddenly there were two dolphin passed. They were Tomi & Timi!
“Hey, Tomi & Timi. Where are you going? Can you help me, please?”, Jumbo asked. “Sure! Let’s we’re together to help you”, answered Tomi.
Then, they worked to acquit the small fish with their tooth. There were many small fishes. But, their work were unsuccessful. Althought they retried it again and again. The asting net couldn’t to open.
While they were hopeless, a group of a whales passed Jumbo, Tomi, & Timi at a stretch. Jumbo cried out his friends and need help. For a second, that casting net can to pull to pieces. And then, many small fishes were free.
The next morning, when jumbo was setting up, he found a group of small fishes beside him. “Why all of you over here?”, Jumbo asked with a startled expression.
“You was slept a long 2 days, after you helped as. We want to say thank you very much and please apologize for all we’re mistake. I guess, a big fish is bad and always oppress a small fish, revealed we’re guess is false. You’re so kind, such your friends too. So, start from now. Let’s play with all of we are”, said someone of the small fishes.
“Ok, I’m forgive all of you. Start from now, let’s we will be a good friends!”, answered Jumbo with a smile face. End then, they were laugh together…

***

 

Uff.. what a nostalgic. I translate it for my English task when I was in Junior High School~ xD

If I don’t get wrong, it’s from one of the story in Bobo Magazine.

 

Thanks :]

3 Maret 2010

Hello world! : My, My, My!!!

Filed under: Comment~ — F.rRaa ♫ @ 5:26 am

Well, well, well..
Karena masih bingung mau nge.post apa,
akhirnya aku putuskan buat ngisi dengan sebuah (bisa jadi beberapa buah) cerita pendek (tapi agak kepanjangan) yang aku bikin buat tugas sekolah ya! ‘Doeeeng~

Cerita ini berdasar pengalaman lho! Ada yang dari orang lain maupun diri sendiri.

Yept. Selamat membaca ya!

PS: Bisa kasih Kritik ‘yang membangun’, Saran ‘yang mendukung’, dan Pertanyaan bagi ‘yang bingung’

Thank you. Have a Nice Day!!😀

silakan pilih opsi di tab-blog nya–>

——————————————————————–

Blog di WordPress.com.